Kurikulum Berbasis Cinta: Antara Harapan Pendidikan yang Humanis dan Tantangan Kesiapan di Lapangan

 


Oleh ; EVI YASOVA

Ketika “Cinta” Masuk ke Ruang Kelas

Belakangan ini istilah Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) ramai dibicarakan guru, orang tua, hingga warganet. Kata “cinta” yang disematkan pada kurikulum memancing dua reaksi sekaligus: sebagian terharu karena pendidikan akhirnya berbicara tentang hati, sebagian lain bertanya-tanya, bisakah cinta dikurikulumkan, dilatihkan, dan dinilai? Perdebatan ini wajar. Pendidikan kita kerap dikritik terlalu sibuk dengan angka, peringkat, dan hafalan, sehingga ruang bagi empati dan makna kian menyempit. Artikel ini mencoba memilah mana fakta dan mana opini agar diskusi tentang KBC berjalan jernih.


Fakta: Apa Sebenarnya KBC?

KBC diinisiasi Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Menurut pemberitaan ANTARA, penyusunannya dimulai sejak Januari 2025 dan melalui lima tahap revisi sebelum diuji publik. Landasan awalnya adalah Keputusan Dirjen Pendis Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan KBC, yang kemudian diperkuat Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 512 Tahun 2026 yang ditetapkan pada 31 Maret 2026. Pada KMA tersebut, Panca Cinta menjadi dasar bagi enam nilai KBC.

Inti KBC dikenal sebagai Panca Cinta, yakni cinta kepada Allah dan Rasul, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri sendiri dan sesama manusia, serta cinta tanah air. Kelimanya dikelompokkan menjadi sumber cinta, tanda cinta, dan tali cinta. Latar belakangnya, sebagaimana disampaikan Dirjen Pendidikan Islam saat itu, Suyitno, adalah keprihatinan bahwa pembelajaran agama selama ini cenderung menekankan aspek doktrinal dan rutinitas, tetapi kurang menyentuh spiritualitas, nilai, dan makna. Kemenag juga menegaskan bahwa KBC bukan kurikulum pengganti, melainkan pengayaan, ibarat memberi “jiwa” pada kurikulum yang telah ada.


Opini: Mengapa Gagasan Ini Layak Didukung

Pertama, KBC sejalan dengan teori kurikulum humanistik, seperti yang dikembangkan Carl Rogers, yang memandang peserta didik sebagai manusia utuh dengan perasaan, kebutuhan, dan potensi, bukan sekadar penerima materi. Anak yang merasa aman dan dihargai cenderung lebih berani bertanya, berpendapat, dan mencoba. Kedua, memasukkan cinta lingkungan ke dalam Panca Cinta memberi napas ekologis pada pendidikan agama, sebuah tema yang makin mendesak di tengah krisis iklim. Ketiga, sejumlah kajian akademik mengaitkan KBC dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), sehingga belajar tidak berhenti pada ingatan, tetapi menyentuh pemahaman, kesadaran, dan kebermaknaan.


Opini: Kritik dan Tantangan yang Perlu Dijawab

Di sisi lain, ada beberapa catatan kritis yang patut dipertimbangkan secara jujur:

Risiko menjadi slogan. Cinta adalah konsep abstrak. Tanpa indikator perilaku yang jelas, misalnya cara siswa memperlakukan teman atau merawat lingkungan kelas, KBC rawan berhenti pada spanduk dan seremoni.

Kesiapan guru. Sejumlah kajian implementasi menunjukkan keberhasilan kurikulum sangat bergantung pada pemahaman guru terhadap Panca Cinta dan kualitas perencanaan pembelajaran. Guru yang sudah terbebani administrasi perlu pendampingan, bukan tambahan dokumen.

Salah paham publik. Masih ada anggapan bahwa KBC adalah kurikulum baru yang berbeda dari kurikulum nasional. Komunikasi yang kurang jelas dapat memicu resistensi yang sebenarnya tidak perlu.

Bukti dampak belum final. KBC masih dalam tahap piloting di madrasah model, dan Kemenag merencanakan evaluasi hingga akhir 2026. Karena itu, klaim bahwa KBC pasti berhasil, atau pasti gagal, sama-sama terlalu dini.


Memilah Fakta dari Anggapan

Anggapan yang beredar

Yang dinyatakan sumber resmi / kajian

KBC adalah kurikulum baru pengganti Kurikulum Merdeka.

Kemenag menegaskan KBC bukan kurikulum pengganti, melainkan pengayaan bagi kurikulum yang sudah berjalan di lembaga pendidikan Islam.

“Cinta” hanya soal perasaan dan tidak bisa dibelajarkan.

Cinta dirumuskan sebagai nilai (kasih sayang, kepedulian, moderasi) yang dioperasionalkan melalui Panca Cinta dan diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran.

KBC sudah final dan berlaku merata.

Pedoman telah terbit (KMA 512/2026), tetapi implementasi dilakukan bertahap melalui madrasah piloting dan evaluasi hingga akhir 2026.

 

Langkah Nyata agar Cinta Tidak Berhenti di Slogan

Menurut hemat penulis, ada empat hal yang menentukan nasib KBC. Pertama, pelatihan dan pendampingan guru yang berkelanjutan, bukan sekadar sosialisasi satu kali. Kedua, indikator capaian yang dapat diamati, misalnya berkurangnya perundungan, meningkatnya kerja sama, dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Ketiga, keteladanan: cinta lebih mudah ditiru daripada diajarkan, sehingga sikap guru, kepala madrasah, dan orang tua menjadi “kurikulum tersembunyi” yang paling kuat. Keempat, evaluasi terbuka yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua, sehingga perbaikan berbasis data, bukan berbasis sentimen.


Penutup

Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar program tambahan, melainkan ajakan untuk mengingat bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang cerdas sekaligus berhati. Gagasannya baik, tetapi nilai sebuah kurikulum akhirnya diuji di ruang kelas, bukan di dokumen kebijakan. Mari kita kawal dengan sikap yang adil: mendukung semangatnya, menguji pelaksanaannya, dan memperbaikinya bersama.


Daftar Pustaka

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI. (2025). Panduan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah (Keputusan Dirjen Pendis Nomor 6077 Tahun 2025). Jakarta: Kementerian Agama RI.

Kementerian Agama RI. (2026). Keputusan Menteri Agama Nomor 512 Tahun 2026 tentang Pedoman Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Jakarta.

ANTARA. (2025). Kemenag: Kurikulum Berbasis Cinta bukan kurikulum pengganti tapi pengayaan. kupang.antaranews.com/berita/154561.

Fahriani, A. N., dkk. (2026). Integrasi epistemologi sufistik dalam anatomi Kurikulum Berbasis Cinta pada pendidikan agama Islam kontemporer. Tadrisia. Institut Islam Mambaul Ulum Surakarta.

Jurnal Mu’allim. (2026). Kurikulum Berbasis Cinta: Perspektif Hadis Nabi SAW. Jurnal Mu’allim, 8(1).

RRI. (2026, 30 Juli). MIN 1 Inovasi Subulussalam gelar raker dan komitmen KBC untuk tahun pelajaran 2026/2027. rri.co.id.


Kurikulum Berbasis Cinta: Antara Harapan Pendidikan yang Humanis dan Tantangan Kesiapan di Lapangan Kurikulum Berbasis Cinta: Antara Harapan Pendidikan yang Humanis dan Tantangan Kesiapan di Lapangan Reviewed by Elzahira News on Kamis, Oktober 08, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar

Theme Support